KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT karena dengan hidayah dan rahmat –Nya akhirnya
penulis dapat menyelesaikan makalah ini merupakan tugas penambah nilai mata
kuliah psikologi sosial
Makalah
ini disusun berdasarkan penuntun dari beberapa buku yang mendukung mata kuliah
ini.makalah ini berisi pembahasan tentang kenakalan
remaja di pandang dari perspektif sosiologi dan psikologi.
Pada
kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak
terutama kepada dosen pembimbing yang telah bekerjasama ,bekerja keras dan ikut
serta dalam membantu proses pembelajaran maupun dalam proses penyusunan makalah
ini baik bantuan secara langsung maupun tidak langsung.
Mudah-mudahan
makalah ini dapat berguna untuk kita semua,kritik dan saran yang membangun
selalu di nantikan guna perbaikan makalah ini .
Pekanbaru,
Oktober 2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kenakalan
remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang.
Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat
penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan
norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber
masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep
perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang
harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah
menyimpang.
Masalah
sosial perilaku menyimpang di bahas melalui pendekatan individual dan
pendekatan sistem.Dalam pendekatan individual melalui pandangan sosialisasi.
Berdasarkan pandangan sosialisasi, perilaku akan diidentifikasi sebagai masalah
sosial apabila ia tidak berhasil dalam melewati belajar sosial (sosialisasi).
Tentang perilaku disorder di kalangan anak dan remaja (Kauffman, 1989: 6)
mengemukakan bahwa perilaku menyimpang juga dapat dilihat sebagai perwujudan
dari konteks sosial.Perilaku disorder tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai
tindakan yang tidak layak, melainkan lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil
interaksi dari transaksi yang tidak benar antara seseorang dengan lingkungan
sosialnya.
Mengenai
pendekatan sistem, yaitu perilaku individu sebagai masalah sosial yang
bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial
sebagai sumber masalah.Dikatakan oleh (Eitzen, 1986: 10) bahwa seorang dapat
menjadi buruk/jelek oleh karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang buruk.
Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada umumnya pada masyarakat yang mengalami
gejala disorganisasi sosial, norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan
mengikat. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah, sehingga memungkinkan
terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilaku. Di dalam masyarakat yang
disorganisasi sosial, seringkali yang terjadi bukan sekedar ketidak pastian dan
surutnya kekuatan mengikat norma sosial, tetapi lebih dari itu, perilaku
menyimpang karena tidak memperoleh sanksi sosial kemudian dianggap sebagai yang
biasa dan wajar.
Dalam
kurun waktu kurang dari dasawarsa terakhir, kenakalan remaja semakin
menunjukkan trend yang amat memprihatinkan.Kenakalan remaja yang diberitakan
dalam berbagai forum dan media dianggap semakin membahayakan.Berbagai macam
kenakalan remaja yang ditunjukkan akhir-akhir ini seperti perkelahian secara
perorangan atau kelompok, mabuk-mabukan, pemerasan, pencurian, perampokan,
penganiayaan dan penyalahgunaan obat-obatan seperti narkotik (narkoba).
Kenakalan
remaja diartikan sebagai suatu outcome dari suatu proses yang menunjukkan
penyimpangan tingkah laku atau pelanggaran terhadap norma-norma yang ada.
Kenakalan remaja disebabkan oleh berbagai faktor baik faktor pribadi, faktor
keluarga yang merupakan lingkungan utama (Willis, 1994), maupun faktor
lingkungan sekitar yang secara potensial dapat membentuk perilaku seorang anak
(Mulyono, 1995).
Berdasarkan
hasil beberapa penelitian ditemukan bahwa salah satu faktor penyebab timbulnya
kenakalan remaja adalah tidak berfungsinya orangtua sebagai figur tauladan bagi
anak (Hawari, 1997). Selain itu suasana keluarga yang meninbulkan rasa tidak
aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat
menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.
Menurut
Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994) orangtua dari remaja nakal cenderung memiliki
aspirasi yang minim mengenai anak-anaknya, menghindari keterlibatan keluarga
dan kurangnya bimbingan orangtua terhadap remaja. Sebaliknya, suasana keluarga
yang menimbulkan rasa aman dan menyenangkan akan menumbuhkan kepribadian yang
wajar dan begitu pula sebaliknya`
1.2METODE
PENULISAN
Dalam
memperoleh data atau informasi yang akan digunakan untuk penulisan makalah ini,
penulis menggunakan metode studi kepustakaan yakni dilakukan dengan mengambil
referensi dari buku-buku dan internet yang relevan dengan topik penulisan
makalah ini sebagai dasar untuk mengetahui dan memperkuat teori yang digunakan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KENAKALAN REMAJA DARI PANDANGAN
SOSIOLOGI
Kenakalan
remaja meliputi semua prilaku yang menyimpang dari norma-norma hokum pidana
yang dialukukan oleh remaja. Prilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri
dan orang-orang sekitarnya.
Kartono
(ilmuan sosiologi) mengemukakan bahwa kenakalan remaja atau dalam bahasa
Inggrisnya dikenal dengan isltilah Juvenule delinquency merupakan gejala
potologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian
sosial.Akibatnya, mengembangkan bentuk prilaku menyimpang.
Santrock
mengemukakan bahwa kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai prilaku
remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan
kriminal.
Kenakalan
remaja merupakan perbuatan anak-anak yang melanggar norma sosial, norma hokum,
norma kelompok dan mengganggu ketrentaman kelompok.Hal-Hal yang mempengaruhi
timbulnya kenakalan remaja :
1. Krisis
identitas
Perubahan
biologis dan sosiologis diri remaja memungkinkan terjadinya dua benytuk
integrasi.Pertama, terbentuknya perasaan dan konsistensi dalam
kehidupannya.Kedua, tercapainnya identitas peran.Kenalakan remaja terjadi
karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
2. Kontrol diri
yang lemah
Remaja
yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima
dengan tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi
mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak
bisa mengembangkan control diri untuk bertingkahlaku sesuai dengan
pengetahuannya.
3.
Keluar
Percerian
orang tua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan
anntar anggota keluarga bisa memicu perilaku negataif pada remaja.Pendidikan
yang salah di keluargapun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan
pendidikan agama atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab
kenakalan remaja.
4. Teman sebaya
yang kurang baik
Pengaruh
teman sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk, apabila dibungkus
dengan segunpal daun, maka daun itupan akan berbau busuk, sedangkan bila
sebatang kayu cendana di bungkus dengan selembar kertas, kertas itupun akan
wangi baunya. Perumpamaan ini merupakan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan
dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja berhati-hati dan
bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul.Jangan biarkan anak
bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak
sesuai, anak dikemudian hari akan banyak masalah bagi dirinya sendiri dan orang
tuanya.
5. Pendidikan
Memberikan
pendidikan yang sesuai dengan anak adalah merupakan salah satu tugas orang tua
kepada anak, maka pilihkan lah sekolah yang bermutu. Namun, masih sering
terjadi dalam masyarakat, orang tua memaksanakan kehendaknya, agar di masa
depan anaknya memilih fropesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orang tua.
Pemaksaan ini justru kan berakhir dengan kekecewaan, sebab, meski memang
sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orang tua tersebut, tetapi tidak
sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudain kecewa, frustasi dan akhirnya
tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka mudah pergi bersama kawan-kawannya,
bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah
satu pengguna obat-obat terlarang.
6. Penggunaan
waktu luang
Kegiatan
di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha
menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan.
Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak pada sisi remaja akan
timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan.
Apabila bentuk kegiatan itu positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah.
Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negative maka lingkungan akan tergangu.
Seringkali perbuatan negative ini hanya terdorong rasa iseng saja.Tindakan
iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja
untuk menarik perhatian lingkungannya, perhatian yang diharapkan dapat berasal
dari orang tuanya maupun teman seperjuangannya.
Celakanya,
kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer
sifat jagoan yang sangat membanggakan.Misalnya, ngebut tanpa lampu malam hari,
mencuri, merusak, minum-minuman keras, obat bius, dan sebaginya.
7. Komunitas/lingkungan
tempat tinggal yang kurang baik
2.2 KENAKALAN
REMAJA DARI PANDANGAN PSIKOLOGI
Kenakalan
remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana
yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri
dan orang-orang di sekitarnya. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja
adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah
melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan
dewasa. Ia berada pada masa transisi.
Kenakalan
remaja sering disebut juga dengan Juvenile Delinquency ialah perilaku jahat
(dursila) atau kejahatan anak-anak muda.Anak-anak muda yang jahat itu disebut
juga sebagai anak cacat secara sosial.
Juvenile
berasal dari bahasa Latin “Juvenilus”, artinya anak-anak, anak muda, ciri
karakteristik pada masa remaja dan Delinquent berasal dari kata Latin
“Delinquere” yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas lagi
maknanya menjadi jahat.
Definisi kenakalan
remaja menurut para ahli adalah sebagai berikut.
1. Kartono,
ilmuwan sosiologi
Kenakalan
Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency
merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk
pengabaian sosial.Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang
menyimpang”.
2. Santrock
“Kenakalan
remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat
diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”
Mengenal
siapa remaja dan apa problema yang dihadapinya adalah suatu keharusan bagi
orang tua. Dengan bekal pengetahuan ini orang tua dapat membimbing anaknya
menataki masa-masa krisis tersebut dengan mulus.Hal ini sangat dirasakan oleh
semua karena di bahu remaja masa kini terletak tanggung jawab moral sebagai
generasi penerus, menggantikan generasi yang ada saat ini.Mereka inilah yang
kelak berperan menjadi sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas,
menjadi aset nasional dan tumpuan harapan bangsa dalam kompetisi global, yang
tentunya kian hiruk pikuk di abad ke XXI.
2.2.1
BENTUK-BENTUK KENAKALAN REMAJA
Singgih
D. Gumarso (1988 : 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan
dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu :
1.
Kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam
undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran
hokum.
2.
Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan
undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila
dilakukan orang dewasa.
Menurut
bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan
;
1.
Kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah,
pergi dari rumah tanpa pamit .
2.
Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai
mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin.
3.
Kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah,
pemerkosaan dll. Kategori di atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam
penelitian.
2.2.2 PENYEBAB
TERJADINYA KENAKALAN REMAJA
Perilaku
kenakalan remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal)
maupun faktor dari luar (eksternal).
1. Faktor
Internal (Dalam)
a. Reaksi
Frustasi Diri
Dengan
semakin pesatnya usaha pembangunan, modernisasi yang berakibat pada banyaknya
anak remaja yang tidak mampu menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan
sosial itu.Mereka lalu mengalami banyak kejutan, frustasi, ketegangan batin dan
bahkan sampai kepada gangguan jiwa.
b. Gangguan
Pengamatan dan Tanggapan Pada Anak Remaja
Adanya
gangguan pengamatan dan tanggapan di atas sangat mengganggu daya adaptasi dan
perkembangan pribadi anak yang sehat.Gangguan pengamatan dan tanggapan itu,
antara lain : halusinasi, ilusi dan gambaran semua. Tanggapan anak tidak
merupakan pencerminan realitas lingkungan yang nyata, tetapi berupa pengolahan
batin yang keliru, sehingga timbul interpretasi dan pengertian yang
salah.Sebabnya ialah semua itu diwarnai harapan yang terlalu muluk, dan
kecemasan yang berlebihan.
c. Gangguan
Berfikir dan Intelegensi Pada Diri Remaja
Berfikir
mutlak perlu bagi kemampuan orientasi yang sehat dan adaptasi yang wajar
terhadap tuntutan lingkungan.Berpikir juga penting bagi upaya pemecahan
kesulitan dan permasalahan hidup sehari-hari.Jika anak remaja tidak mampu
mengoreksi pekiran-pekirannya yang salah dan tidak sesuai dengan realita yang
ada, maka pikirannya terganggu.
d. Gangguan
Perasaan Pada Anak Remaja
Perasaan
memberikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya
kebahagiaan serta rasa kepuasan.Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap
harapan, keinginan dan kebutuhan manusia.Jika semua tadi terpuaskan, orang
merasa senang dan bahagia.
Gangguan-gangguan
fungsi perasaan tersebut, antara lain :
1) Inkontinensi
emosional ialah tidak terkendalinya perasaan yang meledak-ledak, tidak bisa
dikekang.
2) Labilitas
emosional ialah suasana hati yang terus menerus berganti-ganti dan tidak tetap.
Sehingga anak remaja akan cepat marah, gelisah, tidak tenang dan sebagainya.
3) Ketidak
pekaan dan mempunyai perasaan biasa disebabkan oleh sejak kecil anak tidak
pernah diperkenalkan dengan kasih sayang, kelembutan, kebaikan dan perhatian.
4) Kecemasan
merupakan bentuk “ketakutan” pada hal-hal yang tidak jelas, tidak riil, dan
dirasakan sebagai ancaman yang tidak bisa dihindari.
2. Faktor
Eksternal (Luar)
a. Keluarga
Tidak
diragukan bahwa keluarga memegang peranan penting dalam pembentukan pribadi remaja
dan menentukan masa depannya.Mayoritas remaja yang terlibat dalam kenakalan
atau melakukan tindak kekerasan biasanya berasal dari keluarga yang berantakan,
keluarga yang tidak harmonis di mana pertengkaran ayah dan ibu menjadi santapan
sehari-hari remaja.
Bapak
yang otoriter, pemabuk, suka menyiksa anak, atau ibu yang acuh tak acuh, ibu
yang lemah kepribadian dalam atri kata tidak tegas menghadapi remaja,
kemiskinan yang membelit keluarga, kurangnya nilai-nilai agama yang diamalkan
dll semuanya menjadi faktor yang mendorong remaja melakukan tindak kekerasan
dan kenakalan.
b. Lingkungan
Sekolah yang Tidak Menguntungkan
Sekolah
kita sampai waktu sekarang masih banyak berfungsi sebagai “sekolah dengar”
daripada memberikan kesempatan luas untuk membangun aktivitas, kreativitas dan
inventivitas anak.Dengan demikian sekolah tidak membangun dinamisme anak, dan
tidak merangsang kegairahan belajar anak.
Selanjutnya,
berjam-jam lamanya setiap hari anak-anak harus melakukan kegiatan yang
tertekan, duduk, dan pasif mendengarkan, sehingga mereka menjadi jemu, jengkel
dan apatis.
c. Media
Elektronik
Tv,
video, film dan sebagainya nampaknya ikut berperan merusak mental remaja,
padahal mayoritas ibu-ibu yang sibuk menyuruh anaknya menonton tv sebagai upaya
menghindari tuntutan anak yang tak ada habisnya. Sebuah penelitian lapangan
yang pernah dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa film-film yang memamerkan
tindak kekerasan sangat berdampak buruk pada tingkah laku remaja.Anak yang
sering menonton film-film keras lebih terlibat dalam tindak kekerasan ketika
remaja dibandingkan dengan teman-temannya yang jarang menonton film sejenis.
Polisi Amerika menyebutkan bahwa sejumlah tindak kekerasan yang pernah
ditangani polisi ternyata dilakukan oleh remaja persis sama dengan adegan-adegan
film yang ditontonnya. Ternyata anak meniru dan mengindentifikasi film-film
yang ditontonnya.
d. Pengaruh
Pergaulan
Di
usia remaja, anak mulai meluaskan pergaulan sosialnya dengan teman-tema
sebayanya. Remaja mulai betah berbicara berjam jam melalui telepon. Topik
pembicaraan biasanya seputar pelajaran, film, tv atau membicarakan cowok /
cewek yang ditaksir dsb.
Hubungan
sosial di masa remaja ini dinilai positif karena bisa mengembangkan orientasi
remaja memperluas visi pandang dan wawasan serta menambah informasi, bahkan
dari hubungan sosial ini remaja menyerap nilai-nilai sosial yang ada di
sekelilingnya.Semua faktor ini menjadi penyokong dalam pembentukan
kepribadiannya dan menambah rasa percaya diri karena pengaruh pergaulan yang
begitu besar pada diri remaja, maka hubungan remaja dengan teman sebayanya
menentukan kualitas remaja itu. Kalau ini disadari oleh remaja, maka dengan
sadar remaja akan menyeleksi teman pergaulannya.
2.3 MENGATASI
KENAKALAN REMAJA
Kenakalan
remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani
proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa
kanak-kanaknya.Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat,
dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat.Secara
sosiologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak
terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para
pelakunya.Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan
kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi
lingkungan, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri, dan
sebagainya.
Mengatasi
kenakalan remaja, berarti menata kembali emosi remaja yang tercabik-cabik itu.
Emosi dan perasaan mereka rusak karena merasa ditolak oleh keluarga, orang tua,
teman-teman, maupun lingkungannya sejak kecil, dan gagalnya proses perkembangan
jiwa remaja tersebut. Trauma-trauma dalam hidupnya harus diselesaikan,
konflik-konflik psikologis yang menggantung harus diselesaikan, dan mereka
harus diberi lingkungan yang berbeda dari lingkungan sebelumnya.
Memberikan
lingkungan yang baik sejak dini, disertai pemahaman akan perkembangan anak-anak
kita dengan baik, akan banyak membantu mengurangi kenakalan remaja. Minimal
tidak menambah jumlah kasus yang ada.
Ada
beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja, yaitu
sebagai berikut :
1. Kegagalan
menghadapi identisan peran dan lemahnya control diri bisa dicegah atau bisa
diatasi dengan prinsif keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak
mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan
baik, juga mereka berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap
ini.
2. Kemauan orang
tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis,
komunikatif, dan nyaman bagi mereka.
3. Kehidupan
beragama keluarga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian
sosila keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik berarti mereka
akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Artinya secara teoritis bagi
keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik, maka anak-anaknyapun
akan melalukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma-norma agama.
4. untuik
menghindari masalah yang timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk
mempunyai teman bergaul yang sesuai, orang tua juga hendaknya memberikan
kesibukan dan mempercfayakan tanggungjawab rumah tangga kepada si remaja.
Pemberian tanggungjawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun
mengada-ada.Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan
pula. Sebab dengan memberikan tanggungjawab dalam rumah akan dapat mengurangi
waktu anak “Keluyuran” tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui
tugas dan kewajiban serta tanggungjawab dalam ruamh tangga. Mereka dilatih
untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari.Mereka dididik untuk
mandiri.Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasab teman yang
baik.
5. Orang tua
hendaknya membantu memberikan pengarahan agar anak memilih jurusan sesuai
dengan bakat, kesenangan, dan hobi si anak. Tetapi apabila anak tersebut tidak
ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya, maka berilah pengertian kepadanya
bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihanya.Sedangkan hobi
adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai.
6. Mengisi waktu
luang diserahkan kepada kebijaksanaan remaja. Remaja selain membutuhkan materi,
juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.Oleh karena
itu.Waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga
sekaligus sebagai sarana rekreasi.Kegiatan dapat berupa melakukan berbagai
bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli, catur dan lain
sebagainya.Selain itu, dapat pula berupa tukar pikiran berbicara dari hati ke
hati, misalnya makan malam bersama atau duduk santai di ruang keluarga.Kegiatan
keluarha ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga.
7. Remaja
hendaknya pandai memilih lingkungan pergaulan yang baik serta orang tua memberi
arahan arahan di komunitas nama remaja harus bergaul.
8. Remaja
membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman-teman
sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Sosiologi
dan Psikologi merupaka suatu cabang ilmu pengetahuan (dari ilmu jiwa
pendidikan) yang membahas proses interaksi sosial anak-anak mulai dari
keluarga, masa sekolah, sampai dewasa serta kondisi-kondisi sosio kulturil yang
terdapat di dalam masyarakat dan negaranya. Namun, pada kenyataannya berjalan
dengan mulus, masih ada saja terjadi perilaku-perilaku salah satunya adalah
kenakalan remaja.
Kenakalan
remaja meliputi semua prilaku menyimpang dari norma sosial, norma hokum, norma
kelompok dan merugikan dirinya sendiri serta mengganggu ketrentaman masyarakat.
Misalnya, penyalahgunaan Narkotika, prilaku seksual di luar nikah, perkelahian
pelajar, kebut-kebutan, minum-minuman keras, membolos sekolah, berbohong,
membunuh, keluyuran, mencuri, dan aksi corat-coret di tembok atau pagar dan
lain sebaginya.
Untuk
itu waktu luang hendaknya digunakan untuk berkumpul bersama seluruh anggota
keluarga dan mengadakan kegiatan keluarga guna mengeratkan kasih sayang, remaja
harus pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orang tua memberi
arahan denga siap dan di komunitas mana remaja harus bergaul, orang tua
hendaknya memberikan kebijaksanaan terhadap anak untuk memilih pendidikan
sesuai dengan kesenangan dan bakatnya dan orang tua harus berusaha memenuhi
kebutuhan anak secara maksimal baik itu materi, perhatian, kasih sayang,
pendidikan agama dan pendidikan moral.
3.2 SARAN
Dengan
mempelajari ini, kita dapat lebih mengetahui apa saja bentuk-bentuk dan
faktor-faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja.
Sebagai seorang remaja, kita seharusnya bisa
bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada perkembangan kenakalan remaja yang
sudah memprihatinkan saat ini. Oleh karena itu sebagai salah satu bentuk implementasi
dari tanggung jawab tersebut terhadap kenakalan remaja adalah dengan berusaha
semaksimal mungkin menjadi remaja yang baik.
Drs.
Kuswanto, M.M. Bambang Siswanto, S.H.2003. SOSIOLOGI,Solo:
PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
H4b13’S
Weblog.HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI
KENAKALAN REMAJA(
Diakses tanggal 27 oktober 2012)
Soerjono,
Soekanto. 1988. Sosiologi Penyimpangan. Rajawali, Jakarta
Eitzen,
Stanlen D. 1986.Social Problems.
Allyn and Bacon inc, Boston, Sydney, Toronto.
Willis, S. 1994.
Problema Remaja dan Pemecahannya.
Penerbit Angkasa, Bandung
ASIAN
BRAIN.com.Content Team.Kenakalan Remaja(
Diakses tanggal 27 oktober 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar