Senin, 17 Desember 2012

stereotype



Stereotype ( penjulukan)

Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan.[1] Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat.[1] Namun, stereotipe dapat berupa prasangka positif dan juga negatif, dan kadang-kadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif. Sebagian orang menganggap segala bentuk stereotipe negatif. Stereotipe jarang sekali akurat, biasanya hanya memiliki sedikit dasar yang benar, atau bahkan sepenuhnya dikarang-karang. Berbagai disiplin ilmu memiliki pendapat yang berbeda mengenai asal mula stereotipe: psikolog menekankan pada pengalaman dengan suatu kelompok, pola komunikasi tentang kelompok tersebut, dan konflik antarkelompok. Sosiolog menekankan pada hubungan di antara kelompok dan posisi kelompok-kelompok dalam tatanan sosial. Para humanis berorientasi psikoanalisis (mis. Sander Gilman) menekankan bahwa stereotipe secara definisi tidak pernah akurat, namun merupakan penonjolan ketakutan seseorang kepada orang lainnya, tanpa mempedulikan kenyataan yang sebenarnya. Walaupun jarang sekali stereotipe itu sepenuhnya akurat, namun beberapa penelitian statistik menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus stereotipe sesuai dengan fakta terukur.
Stereotip umum
Afrika Amerika

Salah satu contoh stereotip umum adalah stereotip sekitarnya Amerika Afrika. Mengatakan bahwa semua orang Amerika Afrika baik di olahraga adalah stereotipe, karena itu pengelompokan lomba bersama-sama untuk menunjukkan bahwa setiap orang dari ras yang merupakan atlet yang baik.
Pria dan Wanita

Ada juga beberapa stereotip umum pria dan wanita, seperti:

    Pria yang kuat dan melakukan semua pekerjaan.
    Pria adalah "tulang punggung."
    Perempuan tidak sepandai manusia.
    Perempuan tidak bisa lakukan sebagai baik pekerjaan sebagai seorang pria.
    Gadis tidak baik di olahraga.
    Orang ini berantakan dan haram.
    Pria yang menghabiskan terlalu banyak waktu di komputer atau membaca adalah Geeks.

Budaya

Stereotip juga ada tentang budaya suatu negara secara keseluruhan. Stereotip contoh semacam ini termasuk tempat yang:

    Semua orang Amerika putih gemuk, malas, dan bodoh. Homer Simpson dari seri TV The Simpsons adalah personifikasi dari stereotip ini.
    Stereotip Meksiko menunjukkan bahwa semua orang Meksiko pemalas dan datang ke Amerika secara ilegal.
    Semua orang Arab dan Muslim adalah teroris.
    Semua orang yang tinggal di Inggris memiliki gigi yang buruk.
    Orang Italia atau Prancis adalah pecinta yang terbaik.
    Semua Afrika Amerika di luar Amerika Serikat miskin.
    Semua orang Yahudi serakah.
    Semua orang Asia yang pandai matematika. Semua orang Asia suka makan nasi dan drive lambat.
    Semua orang Irlandia yang pemabuk dan makan kentang.
    Semua orang Amerika umumnya dianggap ramah, murah hati, dan toleran, tetapi juga arogan, tidak sabar, dan dominan.

Kelompok Individu

Jenis yang berbeda stereotip juga melibatkan pengelompokan individu. Skaters, Goth, Gangsters, dan Preps adalah beberapa contoh. Sebagian besar dari stereotip ini berlangsung di sekolah. Sebagai contoh:

    Goth mengenakan pakaian hitam, make up hitam, mengalami depresi dan dibenci oleh masyarakat.
    Punk mengenakan Mohawks, paku, rantai, adalah ancaman bagi masyarakat dan selalu terlibat dalam kesulitan.
    Semua politikus philanders dan hanya memikirkan keuntungan pribadi dan keuntungan.
    Gadis hanya memperhatikan penampilan fisik.
    Semua blonds yang bodoh.
    Semua pustakawan adalah perempuan yang sudah tua, memakai kacamata, ikat sanggul tinggi, dan memiliki kerutan di wajah mereka abadi.
    Semua remaja pemberontak.
    Semua anak-anak tidak menikmati makanan sehat.
    Hanya wanita anoreksia bisa menjadi model.

Stereotip seksual

Stereotip seksual, di sisi lain, menunjukkan bahwa setiap orang adalah gay feminin dan maskulin setiap wanita adalah lesbian. Mereka yang percaya stereotip gay mungkin juga percaya bahwa homoseksualitas tidak bermoral, salah dan kekejian.
Apa Stereotip yang

Definisi stereotip adalah setiap kepercayaan publik umum diketahui tentang kelompok sosial tertentu atau jenis individu. Stereotip sering bingung dengan prasangka, karena, seperti prasangka, stereotip didasarkan pada asumsi sebelumnya. Stereotip sering dibuat tentang orang-orang dari budaya tertentu atau ras.

Hampir setiap kebudayaan atau ras memiliki stereotipe, termasuk orang-orang Yahudi, orang Afrika Amerika, orang Irlandia, dan orang-orang Polandia, antara lain.

Stereotip tidak hanya berpusat pada ras yang berbeda dan latar belakang, namun. Stereotip jender juga ada. Misalnya, jika Anda mengatakan bahwa laki-laki lebih baik daripada perempuan, Anda stereotip semua orang dan semua wanita. Jika Anda mengatakan bahwa semua wanita suka memasak, Anda adalah perempuan stereotip.

Stereotip orientasi seksual juga umum. Ini stereotip terjadi ketika Anda memiliki pandangan negatif terhadap gay, lesbian, transgender dan individu. Orang-orang yang memiliki pandangan-pandangan negatif sering dikenal sebagai homophobic.

Stereotip tidak hanya menyakitkan, itu juga salah. Bahkan jika stereotip benar dalam beberapa kasus, selalu menempatkan seseorang bawah berdasarkan pereptions prasangka Anda tidak akan mendorong mereka untuk berhasil.

Stereotip dapat menyebabkan intimidasi membentuk usia muda. Atlet dan preps memilih pada Nerds dan Geeks, Skaters memilih pada Goth, seterusnya dan sebagainya. Stereotip mendorong perilaku bullying yang membawa anak-anak sampai dewasa.

Stereotip juga dapat menyebabkan orang untuk hidup didorong oleh kebencian, dan dapat menyebabkan para korban tersebut stereotip didorong oleh rasa takut. Sebagai contoh, banyak kaum gay dan lesbian yang takut untuk mengakui seksualitas mereka takut dihakimi. Ini adalah situasi kalah-kalah, baik bagi mereka yang melakukan stereotip dan mereka yang menjadi korban.

Jumat, 30 November 2012

<iframe src="http://www.stafaband.info/embed-45212.html" width=310 height=70 scrolling="no" frameborder=0></iframe>

Selasa, 27 November 2012

Reshuffle Cabinet Indonesia Bersatu Jilid II



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan hidayah dan rahmat –Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini merupakan tugas penambah nilai mata kuliah lembaga-lembaga social.
Makalah ini disusun berdasarkan penuntun dari beberapa buku yang mendukung mata kuliah ini.makalah ini berisi pembahasan tentang “ Reshuffle Cabinet Indonesia Bersatu Jilid II”
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak terutama kepada dosen pembimbing serta teman-teman kelompok yang telah bekerjasama ,bekerja keras dan ikut serta dalam membantu proses pembelajaran maupun dalam proses penyusunan makalah ini baik bantuan secara langsung maupun tidak langsung.
Mudah-mudahan makalah ini dapat berguna untuk kita semua,kritik dan saran yang membangun selalu di nantikan guna perbaikan makalah ini .





Pekanbaru, Oktober 2012








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
1.2  Tujuan Penulisan
1.3  Metoda Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
            2.1 Pengertian Reshuffle Cabinet
            2.1 Reshaffle Cabinet Indonesia Bersatu Jilid Ii
BAB 111 PENUTUP
            3.1 Kesimpulan
            3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA











BAB I
PENDAHULUAN


1.1                         Latar belakang

Reshuffle Kabinet, merupakan satu topik yang hangat cenderung “ Panas “ dibahas, terutama oleh Petinggi Partai Politik dalam koalisi yang dungu , mengapa ?
Mengapa Koalisi itu satu kedunguan ? Berkoalisi untuk bersama memerintah tanpa arah kecuali hanya sekedar bagi-bagi kesempatan untuk dapat bertahan memperoleh “ Kursi “ yang cukup di lembaga Legislatif maupun Eksekutif.
Dungu karena mereka saling melakukan tipu daya , karena mereka saling tipu dengan sadar, karena mereka tahu mereka telah ditipu dan mereka juga sadar, bahwa mereka telah menipu.
Mereka menjadi korban tipu daya dengan sadar, tapi mereka juga sadar bahwa ada cara untuk mengalihkan beban sebagai korban penipuan, yaitu Rakyat. Rakyatlah yang mereka korbankan. Pada saat mereka berebut Kursi, maka Rakyat akan dikorbankan. Saat mereka mendapatkan kursi itu , “ rakyat “ pula yang dikorbankan.
Untuk apa Reshuffle ? Untuk kepentingn rakyat kah ? atau satu kesempatan baru untuk kembali menipu rakyat untuk lebih leluasa melenggang pada kesempatan berikutnya.

1.2  Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi penilaian dosen pembimbing untuk tugas kelompok.
1.3 Metoda Penulisan
Dalam memperoleh data atau informasi yang akan digunakan untuk penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode studi kepustakaan yakni dilakukan dengan mengambil referensi dari buku-buku dan internet yang relevan dengan topik penulisan makalah ini sebagai dasar untuk mengetahui dan memperkuat teori yang digunakan

.
BAB II
PEMBAHASAN



2.1 Pengertian  RESHUFFLE Kabinet
Cabinet Reshuffle (dalam bahasa Indonesia= Perombakan Kabinet). Adapun pengertiannya adalah suatu peristiwa kenegaraan dimana Kepala Pemerintahan mengganti komposisi menteri dalam kabinet. Umumnya, Perombakan Kabinet dilakukan dengan cara memindahkan seorang menteri atau lebih ke posisi yang lain. Jadi intinya Reshuffle itu adalah perubahan atau merubah dalam lingkungan politik atau kenegaraan.
Reshuffle harus dilakukan tetapi terhadap menteri-menteri yang dipandang tidak mampu bekerja dengan maksimal untuk menyukseskan kabinet (nasional.kompas.com | Parpol Harus Diajak Bicara Jika Menterinya Dicopot | Khaerudin | Nasru Alam Aziz | Minggu, 18 September 2011 | 10:07 WIB).
          Pergantian susunan personil yang ada di dalam kabinet adalah hal yang biasa. Secara periodik kinerja para menteri dalam kabinet dievaluasi dan dinilai oleh 'tim' yang dibentuk Presiden. Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
          Tentu para menteri yang telah diangkat oleh Presiden akan mencurahkan segenap kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi negeri ini. Namun tidaklah mudah untuk meraih cita-cita yang luhur karena antara kehendak dan cita-cita itu besar gelombangnya.

2.2 RESHUFFLE Cabinet Indonesia Bersatu Jilid II
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan pergantian dan pergeseran (reshuffle) sejumlah menteri “Tujuan dari penataan kembali hasil reshuffle KIB II ini antara lain untuk meningkatkan kinerja dan efektifitas kabinet, juga untuk menyukseskan sasaran pembangunan tiga tahun ke depan di tengah tantangan yang makin kompleks dan berat,” jelas SBY dalam konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/10/2011).
“Proses reshuffle ini berjalan sistemik dan akuntabel dan kami pun memperhatikan sejumlah pertimbangan bukan RBT, Rencana Bangun Tidur,” kata SBY di Istana Merdeka, Selasa (18/10/2011).
SBY mengatakan, reshuffle ini dilakukan setelah dia dibantu oleh waklil presiden bekerja selama satu minggu. Bersama Wakil Presiden, dia mengolah, mempertimbangkan berbagai faktor dan mengambil keputusan dan ketetapan berkaitan penetapan KIB II.
Dikatakannya tujuan dari penataan kabinet ini tiada lain untuk meningkatkan kinerja dan efektivitas kabinet sekaligus untuk menyukseskan sasaran pembangunan tiga tahun mendatang tiga tahun mendatang yang kompleks.
SBY menambahkan, dasar pertimbangan melaksanakan reshuffle di antaranya faktor integritas, faktor the right man in the right place, keperluan organisasi, dalam hal ini kabinet dan masukan serta aspirasi masyarakat luas pada kurun waktu satu tahun terakhir. “Faktor lainnya adalah faktor persatuan dalam kemajemukan. Tentu tanpa meninggalkan integritas calon menteri,” katanya.
Selain itu SBY mengatakan, meskipun ada dorongan dan tekanan kepada dia untuk setiap tahun melaksanakan reshuffle tapi, kata SBY, itu tidak tepat. “Karena saya pikir ini akan mengganggu kontinuitas dari kabinet yang saya pimpin,” katanya.
Sebab itu, kata SBY inilah waktu yang tepat untuk melakukan reshuffle paruh waktu. “Setelah kabinet bekerja selama satu tahun maka saya evaluasi dan yang saya lakukan agar tugas kami tiga tahun mendatang dapat lebih baik lagi,” ujarnya.
SBY menambahkan kalau terkait partai koalisi maka SBY mengadakan konsultasi jajaran pimpinan partai koalisi. “Kalau penilaian kesehatan, hasil pemeriksaanlah yang menjadi rujukan,” katanya. Pada kesempatan yang sama, wakil menteri bukan anggota kabinet. “Fasilitasnya pun tidak sama dengan fasiltas menteri,” tegasnya.
Berikut perubahan menteri:
Menteri Hukum dan HAM: Amir Syamsuddin 
Wamen Hukum dan HAM: Denny Indrayana 
“Ini untuk memajukan lagi dunia hukum dan memajukan reformasi dalam hukum serta sejumlah masalah di bidang hukum dan HAM. Saya yakin masyarakat menginginkan tegaknya hukum dan HAM,” kata SBY.

Menteri PAN: Azwar Abubakar Wamen PAN: Eko Prasodjo
Wamen Luar Negeri: Wardana “Untuk Priyono akan ditempatkan sebagai duta besar di Negara sahabat,” tambahnya.
Kepala BIN: Ketjen Marciano Norman 
Menteri Perhubungan: EE mangidanaan 
Menteri Riset dan teknologi: Gusti Muhammad Hatta 
Menteri kelautan dan Perikanan: Syarif Cicip Sutardji 
Menteri Perumahan Rakyat: Djan Faridz 
Menteri Lingkungan Hidup: Berth Kambuaya
Dosen filsafat politik Universitas Indonesia, Doni Gahral, menilai ratusan kali dilakukan reshuffle terhadap Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II tidak akan ada gunanya jika belum ada sikap yang jelas dalam kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  "Di-reshuffle ratusan kali pun tidak akan ada perubahan yang signifikan kalau presidennya seperti sekarang," kata Doni di Rumah Perubahan, Jakarta, Selasa, 8 Mei 2012. Menurutnya, persoalan kepemimpinan presiden saat ini adalah visi yang tidak jelas dan sering disandera kepentingan politik. "Akhirnya, menteri bermanuver sendiri-sendiri."
         Keadaan tersebut, ujar Doni, membuat para menteri dalam jajaran kabinet melakukan inovasi sendiri. "Tidak ada arahan dari presiden," ucapnya. "Kita harus malu dengan Presiden Argentina yang melakukan nasionalisasi perusahaan minyak terbesar milik Spanyol."
       Menurut Doni, kinerja jajaran kabinet merupakan pantulan yang sempurna dari kepemimpinan presiden. Ia mencontohkan ketidaktegasan pemerintah dalam menentukan kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi per 1 April lalu.
         "Setelah kebijakan itu disahkan DPR, lalu ada isu mau dibatasi penggunaan bbm bersubsidi hanya untuk kendaraan 1300 CC ke atas, kemudian ada isu libur sehari menggunakan Premium. Lalu mau yang mana?" kata Doni.
        Doni mengatakan ketidaktegasan kepemimpinan presiden saat ini harus menjadi teguran keras bagi bangsa Indonesia. "Memilih presiden bukan hanya soal karakter dan tampilan. Saya kira presiden ke depan harus betul-betul menjalankan konstitusi," ujar dia.


BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Reshuffle harus dilakukan tetapi terhadap menteri-menteri yang dipandang tidak mampu bekerja dengan maksimal untuk menyukseskan kabinet (nasional.kompas.com | Parpol Harus Diajak Bicara Jika Menterinya Dicopot | Khaerudin | Nasru Alam Aziz | Minggu, 18 September 2011 | 10:07 WIB).
Pergantian susunan personil yang ada di dalam kabinet adalah hal yang biasa. Secara periodik kinerja para menteri dalam kabinet dievaluasi dan dinilai oleh 'tim' yang dibentuk Presiden. Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
Tentu para menteri yang telah diangkat oleh Presiden akan mencurahkan segenap kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi negeri ini. Namun tidaklah mudah untuk meraih cita-cita yang luhur karena antara kehendak dan cita-cita itu besar gelombangnya.
Menteri yang berjiwa 'fitri' dalam arti bagus budi pekertinya. Luhur cita-citanya, memegang amanat yang telah diterimanya dengan sebaik-baiknya, jujur, mampu dalam menjalankan tugas, dan taat. Juga mempunyai jiwa 'ayu' dalam arti segala gerak langkahnya, ucapannya, pikirannya dan keputusannya itu menguntungkan masyarakat, melegakan masyarakat, dan tidak menyakiti hati rakyat. Menteri tersebut juga harus 'prasetyo' dalam arti dapat memegang teguh sumpah jabatannya.
Kita tentu yakin bila para birokrat, penegak hukum, dan rakyat Indonesia memiliki karakter 'fitri ayu prasetyo' maka negeri Indonesia yang gemah ripah loh jinawi tata tenteram karta raharja akan segera terwujud. Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur bukanlah angan-angan kosong namun wujud dalam kenyataan.

3.1 SARAN
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca semua nya dan apabila terdapat kekurangan dalam penulisan nya penulis mohon maaf, kritik dan saran pembaca sangat diharap kan demi kesempurnaan penulisan makalah ini. Terimakasih.





DAFTAR PUSTAKA

LENSAINDONESIA.COM
tempo.co/read/news/2012/
( semua sumber di akses tanggal 24 November 2012 jam 9.30 WIB)








kenakalan remaja dari pandangan perspektif sosiologi dan perspektif psikoligi



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan hidayah dan rahmat –Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini merupakan tugas penambah nilai mata kuliah psikologi sosial
Makalah ini disusun berdasarkan penuntun dari beberapa buku yang mendukung mata kuliah ini.makalah ini berisi pembahasan tentang kenakalan remaja di pandang dari perspektif sosiologi dan psikologi.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak terutama kepada dosen pembimbing yang telah bekerjasama ,bekerja keras dan ikut serta dalam membantu proses pembelajaran maupun dalam proses penyusunan makalah ini baik bantuan secara langsung maupun tidak langsung.
Mudah-mudahan makalah ini dapat berguna untuk kita semua,kritik dan saran yang membangun selalu di nantikan guna perbaikan makalah ini .





Pekanbaru, Oktober 2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
           
Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang.
Masalah sosial perilaku menyimpang di bahas melalui pendekatan individual dan pendekatan sistem.Dalam pendekatan individual melalui pandangan sosialisasi. Berdasarkan pandangan sosialisasi, perilaku akan diidentifikasi sebagai masalah sosial apabila ia tidak berhasil dalam melewati belajar sosial (sosialisasi). Tentang perilaku disorder di kalangan anak dan remaja (Kauffman, 1989: 6) mengemukakan bahwa perilaku menyimpang juga dapat dilihat sebagai perwujudan dari konteks sosial.Perilaku disorder tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai tindakan yang tidak layak, melainkan lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi yang tidak benar antara seseorang dengan lingkungan sosialnya.        
Mengenai pendekatan sistem, yaitu perilaku individu sebagai masalah sosial yang bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial sebagai sumber masalah.Dikatakan oleh (Eitzen, 1986: 10) bahwa seorang dapat menjadi buruk/jelek oleh karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang buruk. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada umumnya pada masyarakat yang mengalami gejala disorganisasi sosial, norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah, sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilaku. Di dalam masyarakat yang disorganisasi sosial, seringkali yang terjadi bukan sekedar ketidak pastian dan surutnya kekuatan mengikat norma sosial, tetapi lebih dari itu, perilaku menyimpang karena tidak memperoleh sanksi sosial kemudian dianggap sebagai yang biasa dan wajar.
Dalam kurun waktu kurang dari dasawarsa terakhir, kenakalan remaja semakin menunjukkan trend yang amat memprihatinkan.Kenakalan remaja yang diberitakan dalam berbagai forum dan media dianggap semakin membahayakan.Berbagai macam kenakalan remaja yang ditunjukkan akhir-akhir ini seperti perkelahian secara perorangan atau kelompok, mabuk-mabukan, pemerasan, pencurian, perampokan, penganiayaan dan penyalahgunaan obat-obatan seperti narkotik (narkoba).
Kenakalan remaja diartikan sebagai suatu outcome dari suatu proses yang menunjukkan penyimpangan tingkah laku atau pelanggaran terhadap norma-norma yang ada. Kenakalan remaja disebabkan oleh berbagai faktor baik faktor pribadi, faktor keluarga yang merupakan lingkungan utama (Willis, 1994), maupun faktor lingkungan sekitar yang secara potensial dapat membentuk perilaku seorang anak (Mulyono, 1995).
Berdasarkan hasil beberapa penelitian ditemukan bahwa salah satu faktor penyebab timbulnya kenakalan remaja adalah tidak berfungsinya orangtua sebagai figur tauladan bagi anak (Hawari, 1997). Selain itu suasana keluarga yang meninbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.
Menurut Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994) orangtua dari remaja nakal cenderung memiliki aspirasi yang minim mengenai anak-anaknya, menghindari keterlibatan keluarga dan kurangnya bimbingan orangtua terhadap remaja. Sebaliknya, suasana keluarga yang menimbulkan rasa aman dan menyenangkan akan menumbuhkan kepribadian yang wajar dan begitu pula sebaliknya`

1.2METODE PENULISAN
Dalam memperoleh data atau informasi yang akan digunakan untuk penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode studi kepustakaan yakni dilakukan dengan mengambil referensi dari buku-buku dan internet yang relevan dengan topik penulisan makalah ini sebagai dasar untuk mengetahui dan memperkuat teori yang digunakan.
           
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KENAKALAN REMAJA DARI PANDANGAN SOSIOLOGI
Kenakalan remaja meliputi semua prilaku yang menyimpang dari norma-norma hokum pidana yang dialukukan oleh remaja. Prilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang sekitarnya.
Kartono (ilmuan sosiologi) mengemukakan bahwa kenakalan remaja atau dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan isltilah Juvenule delinquency merupakan gejala potologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial.Akibatnya, mengembangkan bentuk prilaku menyimpang.
Santrock mengemukakan bahwa kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai prilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.
Kenakalan remaja merupakan perbuatan anak-anak yang melanggar norma sosial, norma hokum, norma kelompok dan mengganggu ketrentaman kelompok.Hal-Hal yang mempengaruhi timbulnya kenakalan remaja :
1. Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis diri remaja memungkinkan terjadinya dua benytuk integrasi.Pertama, terbentuknya perasaan dan konsistensi dalam kehidupannya.Kedua, tercapainnya identitas peran.Kenalakan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
2. Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan control diri untuk bertingkahlaku sesuai dengan pengetahuannya.

3. Keluar                                         
Percerian orang tua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan anntar anggota keluarga bisa memicu perilaku negataif pada remaja.Pendidikan yang salah di keluargapun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab kenakalan remaja.
4. Teman sebaya yang kurang baik
Pengaruh teman sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk, apabila dibungkus dengan segunpal daun, maka daun itupan akan berbau busuk, sedangkan bila sebatang kayu cendana di bungkus dengan selembar kertas, kertas itupun akan wangi baunya. Perumpamaan ini merupakan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul.Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak dikemudian hari akan banyak masalah bagi dirinya sendiri dan orang tuanya.
5. Pendidikan
Memberikan pendidikan yang sesuai dengan anak adalah merupakan salah satu tugas orang tua kepada anak, maka pilihkan lah sekolah yang bermutu. Namun, masih sering terjadi dalam masyarakat, orang tua memaksanakan kehendaknya, agar di masa depan anaknya memilih fropesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orang tua. Pemaksaan ini justru kan berakhir dengan kekecewaan, sebab, meski memang sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orang tua tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudain kecewa, frustasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka mudah pergi bersama kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.
6. Penggunaan waktu luang
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak pada sisi remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila bentuk kegiatan itu positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negative maka lingkungan akan tergangu. Seringkali perbuatan negative ini hanya terdorong rasa iseng saja.Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya, perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orang tuanya maupun teman seperjuangannya.
Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan.Misalnya, ngebut tanpa lampu malam hari, mencuri, merusak, minum-minuman keras, obat bius, dan sebaginya.
7. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik

2.2 KENAKALAN REMAJA DARI PANDANGAN PSIKOLOGI
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.
Kenakalan remaja sering disebut juga dengan Juvenile Delinquency ialah perilaku jahat (dursila) atau kejahatan anak-anak muda.Anak-anak muda yang jahat itu disebut juga sebagai anak cacat secara sosial.
Juvenile berasal dari bahasa Latin “Juvenilus”, artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa remaja dan Delinquent berasal dari kata Latin “Delinquere” yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas lagi maknanya menjadi jahat.
Definisi kenakalan remaja menurut para ahli adalah sebagai berikut.
1. Kartono, ilmuwan sosiologi
Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial.Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.

2. Santrock
“Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”
Mengenal siapa remaja dan apa problema yang dihadapinya adalah suatu keharusan bagi orang tua. Dengan bekal pengetahuan ini orang tua dapat membimbing anaknya menataki­ masa-masa krisis tersebut dengan mulus.Hal ini sangat dirasakan oleh semua karena di bahu remaja masa kini terletak tanggung jawab moral sebagai generasi penerus, menggantikan generasi yang ada saat ini.Mereka inilah yang kelak berperan menjadi sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas, menjadi aset nasional dan tumpuan harapan bangsa dalam kompetisi global, yang tentunya kian hiruk pikuk di abad ke XXI.

2.2.1 BENTUK-BENTUK KENAKALAN REMAJA
Singgih D. Gumarso (1988 : 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu :
1. Kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hokum.
2. Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa.
Menurut bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan ;
1. Kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit .
2. Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin.
3. Kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll. Kategori di atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam penelitian.

2.2.2 PENYEBAB TERJADINYA KENAKALAN REMAJA
Perilaku kenakalan remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
1. Faktor Internal (Dalam)
a. Reaksi Frustasi Diri
Dengan semakin pesatnya usaha pembangunan, modernisasi yang berakibat pada banyaknya anak remaja yang tidak mampu menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan sosial itu.Mereka lalu mengalami banyak kejutan, frustasi, ketegangan batin dan bahkan sampai kepada gangguan jiwa.
b. Gangguan Pengamatan dan Tanggapan Pada Anak Remaja
Adanya gangguan pengamatan dan tanggapan di atas sangat mengganggu daya adaptasi dan perkembangan pribadi anak yang sehat.Gangguan pengamatan dan tanggapan itu, antara lain : halusinasi, ilusi dan gambaran semua. Tanggapan anak tidak merupakan pencerminan realitas lingkungan yang nyata, tetapi berupa pengolahan batin yang keliru, sehingga timbul interpretasi dan pengertian yang salah.Sebabnya ialah semua itu diwarnai harapan yang terlalu muluk, dan kecemasan yang berlebihan.
c. Gangguan Berfikir dan Intelegensi Pada Diri Remaja
Berfikir mutlak perlu bagi kemampuan orientasi yang sehat dan adaptasi yang wajar terhadap tuntutan lingkungan.Berpikir juga penting bagi upaya pemecahan kesulitan dan permasalahan hidup sehari-hari.Jika anak remaja tidak mampu mengoreksi pekiran-pekirannya yang salah dan tidak sesuai dengan realita yang ada, maka pikirannya terganggu.
d. Gangguan Perasaan Pada Anak Remaja
Perasaan memberikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebahagiaan serta rasa kepuasan.Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia.Jika semua tadi terpuaskan, orang merasa senang dan bahagia.


Gangguan-gangguan fungsi perasaan tersebut, antara lain :
1) Inkontinensi emosional ialah tidak terkendalinya perasaan yang meledak-ledak, tidak bisa dikekang.
2) Labilitas emosional ialah suasana hati yang terus menerus berganti-ganti dan tidak tetap. Sehingga anak remaja akan cepat marah, gelisah, tidak tenang dan sebagainya.
3) Ketidak pekaan dan mempunyai perasaan biasa disebabkan oleh sejak kecil anak tidak pernah diperkenalkan dengan kasih sayang, kelembutan, kebaikan dan perhatian.
4) Kecemasan merupakan bentuk “ketakutan” pada hal-hal yang tidak jelas, tidak riil, dan dirasakan sebagai ancaman yang tidak bisa dihindari.
2. Faktor Eksternal (Luar)
a. Keluarga
Tidak diragukan bahwa keluarga memegang peranan penting dalam pembentukan pribadi remaja dan menentukan masa depannya.Mayoritas remaja yang terlibat dalam kenakalan atau melakukan tindak kekerasan biasanya berasal dari keluarga yang berantakan, keluarga yang tidak harmonis di mana pertengkaran ayah dan ibu menjadi santapan sehari-hari remaja.
Bapak yang otoriter, pemabuk, suka menyiksa anak, atau ibu yang acuh tak acuh, ibu yang lemah kepribadian dalam atri kata tidak tegas menghadapi remaja, kemiskinan yang membelit keluarga, kurangnya nilai-nilai agama yang diamalkan dll semuanya menjadi faktor yang mendorong remaja melakukan tindak kekerasan dan kenakalan.
b. Lingkungan Sekolah yang Tidak Menguntungkan
Sekolah kita sampai waktu sekarang masih banyak berfungsi sebagai “sekolah dengar” daripada memberikan kesempatan luas untuk membangun aktivitas, kreativitas dan inventivitas anak.Dengan demikian sekolah tidak membangun dinamisme anak, dan tidak merangsang kegairahan belajar anak.
Selanjutnya, berjam-jam lamanya setiap hari anak-anak harus melakukan kegiatan yang tertekan, duduk, dan pasif mendengarkan, sehingga mereka menjadi jemu, jengkel dan apatis.
c. Media Elektronik
Tv, video, film dan sebagainya nampaknya ikut berperan merusak mental remaja, padahal mayoritas ibu-ibu yang sibuk menyuruh anaknya menonton tv sebagai upaya menghindari tuntutan anak yang tak ada habisnya. Sebuah penelitian lapangan yang pernah dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa film-film yang memamerkan tindak kekerasan sangat berdampak buruk pada tingkah laku remaja.Anak yang sering menonton film-film keras lebih terlibat dalam tindak kekerasan ketika remaja dibandingkan dengan teman-temannya yang jarang menonton film sejenis. Polisi Amerika menyebutkan bahwa sejumlah tindak kekerasan yang pernah ditangani polisi ternyata dilakukan oleh remaja persis sama dengan adegan-adegan film yang ditontonnya. Ternyata anak meniru dan mengindentifikasi film-film yang ditontonnya.
d. Pengaruh Pergaulan
Di usia remaja, anak mulai meluaskan pergaulan sosialnya dengan teman-tema sebayanya. Remaja mulai betah berbicara berjam jam melalui telepon. Topik pembicaraan biasanya seputar pelajaran, film, tv atau membicarakan cowok / cewek yang ditaksir dsb.      
Hubungan sosial di masa remaja ini dinilai positif karena bisa mengembangkan orientasi remaja memperluas visi pandang dan wawasan serta menambah informasi, bahkan dari hubungan sosial ini remaja menyerap nilai-nilai sosial yang ada di sekelilingnya.Semua ­faktor ini menjadi penyokong dalam pembentukan kepribadiannya dan menambah rasa percaya diri karena pengaruh pergaulan yang begitu besar pada diri remaja, maka hubungan remaja dengan teman sebayanya menentukan kualitas remaja itu. Kalau ini disadari oleh remaja, maka dengan sadar remaja akan menyeleksi teman pergaulannya.

2.3 MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya.Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat.Secara sosiologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya.Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungan, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri, dan sebagainya.
Mengatasi kenakalan remaja, berarti menata kembali emosi remaja yang tercabik-cabik itu. Emosi dan perasaan mereka rusak karena merasa ditolak oleh keluarga, orang tua, teman-teman, maupun lingkungannya sejak kecil, dan gagalnya proses perkembangan jiwa remaja tersebut. Trauma-trauma dalam hidupnya harus diselesaikan, konflik-konflik psikologis yang menggantung harus diselesaikan, dan mereka harus diberi lingkungan yang berbeda dari lingkungan sebelumnya.
Memberikan lingkungan yang baik sejak dini, disertai pemahaman akan perkembangan anak-anak kita dengan baik, akan banyak membantu mengurangi kenakalan remaja. Minimal tidak menambah jumlah kasus yang ada.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja, yaitu sebagai berikut :
1. Kegagalan menghadapi identisan peran dan lemahnya control diri bisa dicegah atau bisa diatasi dengan prinsif keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik, juga mereka berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
2. Kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi mereka.
3. Kehidupan beragama keluarga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosila keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Artinya secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik, maka anak-anaknyapun akan melalukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma-norma agama.
4. untuik menghindari masalah yang timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orang tua juga hendaknya memberikan kesibukan dan mempercfayakan tanggungjawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggungjawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada.Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggungjawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak “Keluyuran” tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggungjawab dalam ruamh tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari.Mereka dididik untuk mandiri.Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasab teman yang baik.
5. Orang tua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar anak memilih jurusan sesuai dengan bakat, kesenangan, dan hobi si anak. Tetapi apabila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihanya.Sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai.
6. Mengisi waktu luang diserahkan kepada kebijaksanaan remaja. Remaja selain membutuhkan materi, juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.Oleh karena itu.Waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi.Kegiatan dapat berupa melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli, catur dan lain sebagainya.Selain itu, dapat pula berupa tukar pikiran berbicara dari hati ke hati, misalnya makan malam bersama atau duduk santai di ruang keluarga.Kegiatan keluarha ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga.
7. Remaja hendaknya pandai memilih lingkungan pergaulan yang baik serta orang tua memberi arahan arahan di komunitas nama remaja harus bergaul.
8. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman-teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
           






BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Sosiologi dan Psikologi merupaka suatu cabang ilmu pengetahuan (dari ilmu jiwa pendidikan) yang membahas proses interaksi sosial anak-anak mulai dari keluarga, masa sekolah, sampai dewasa serta kondisi-kondisi sosio kulturil yang terdapat di dalam masyarakat dan negaranya. Namun, pada kenyataannya berjalan dengan mulus, masih ada saja terjadi perilaku-perilaku salah satunya adalah kenakalan remaja.
Kenakalan remaja meliputi semua prilaku menyimpang dari norma sosial, norma hokum, norma kelompok dan merugikan dirinya sendiri serta mengganggu ketrentaman masyarakat. Misalnya, penyalahgunaan Narkotika, prilaku seksual di luar nikah, perkelahian pelajar, kebut-kebutan, minum-minuman keras, membolos sekolah, berbohong, membunuh, keluyuran, mencuri, dan aksi corat-coret di tembok atau pagar dan lain sebaginya.
Untuk itu waktu luang hendaknya digunakan untuk berkumpul bersama seluruh anggota keluarga dan mengadakan kegiatan keluarga guna mengeratkan kasih sayang, remaja harus pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orang tua memberi arahan denga siap dan di komunitas mana remaja harus bergaul, orang tua hendaknya memberikan kebijaksanaan terhadap anak untuk memilih pendidikan sesuai dengan kesenangan dan bakatnya dan orang tua harus berusaha memenuhi kebutuhan anak secara maksimal baik itu materi, perhatian, kasih sayang, pendidikan agama dan pendidikan moral.

3.2 SARAN
Dengan mempelajari ini, kita dapat lebih mengetahui apa saja bentuk-bentuk dan faktor-faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja.
 Sebagai seorang remaja, kita seharusnya bisa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada perkembangan kenakalan remaja yang sudah memprihatinkan saat ini. Oleh karena itu sebagai salah satu bentuk implementasi dari tanggung jawab tersebut terhadap kenakalan remaja adalah dengan berusaha semaksimal mungkin menjadi remaja yang baik.



DAFTAR PUSTAKA

Drs. Kuswanto, M.M. Bambang Siswanto, S.H.2003. SOSIOLOGI,Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
H4b13’S Weblog.HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI KENAKALAN REMAJA( Diakses tanggal 27 oktober 2012)
Soerjono, Soekanto. 1988. Sosiologi Penyimpangan. Rajawali, Jakarta
Eitzen, Stanlen D. 1986.Social Problems. Allyn and Bacon inc, Boston, Sydney, Toronto.
Willis, S. 1994. Problema Remaja dan Pemecahannya. Penerbit Angkasa, Bandung
ASIAN BRAIN.com.Content Team.Kenakalan Remaja( Diakses tanggal 27 oktober 2012)